SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW PERIODE MEKKAH


SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW PERIODE MEKKAH






1.     Sebelum Menjadi Rasul
Kondisi bangsa Arab sebelum kedatangan Islam, terutama di sekitar Mekkah masih diwarnai dengan penyembahan berhala sebagai Tuhan. Yang telah di kenal dengan istilah Paganisme.
Selain menyembah berhala, di kalangan bangsa Arab ada pula yang menyembah agama Masehi (Nasrani), agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Di samping itu juga agama Yahudi dan Madinah, serta agama Majusi (Mazdaisme), yaitu agama orang-orang Persia.
Demikianlah keadaan bangsa Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam di tengah-tengah bangsa Arab. Masa itu biasa disebut dengan zaman Jahiliah, masa kegelapan dan kebodohan dalam hal agama, bukan dalam hal lain seperti ekonomi dan sastra karena dalam dua hal yang terakhir ini bangsa Arab mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mekkah bukan hanya merupakan pusat perdagangan lokal, tetapi juga sebagai jalur perdagangan dunia yang penting saat itu, yang menghubungkan antara utara, Syam, dan selatan, Yaman, antara timur, Persia, dan barat Abesinia dan Mesir.
Dalam bidang sastra, pada masa ini sastra juga memiliki arti penting dalam kehidupan bangsa Arab, mereka mengabadikan peristiwa-peristiwa dalam syair yang diperlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz, Majinnah dan Majaz. Bagi yang memiliki syair yang bagus, maka diberikan hadiah, dan mendapat kehormatana bagi suku atau kabilahnya serta syairnya digantungkan di Ka’bah yang dinamakan Al-Mu’allaq As-Sab’ah.



Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau 20 april 571 M. Ketika itu Raja Yaman Abrahah dengan gajahnya menyerbu Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah sehingga tahun itu dinamakan Tahun Gajah.
Nabi Muhammad adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Kabilah ini memegang jabatan Siqayah. Muhammad lahir dalam keadaan yatim, ayahnya yakni Abdullah meninggal dunia tiga bulan ketika Muhammad dalam kandungan ibunya. Ketika lahir Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyah. Dalam asuhannya, ia dibesarkan sampai umur empat tahun. Setelah itu, kurang lebih dua tahun dalam asuhan ibu kandungnya. Beliau telah menjadi Yatim Piatu ketika berumur delapan tahun, dan beliau diasuh oleh kakek dan pamannya, Abdul Muthalib dan Abu Thalib. Pada umur 12 tahun Nabi Muhammad sudah mengenal perdagangan, sebab pada saat itu beliau telah diajak berdagang oleh paman beliau, Abu Thalib ke negeri Syam.
Pada usia 25 tahun, Muhammad berangkat ke Syiria membawa dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda bernama Khadijah. Dalam perdagangan ini Muhammad memperoleh laba yang besar dan kemudia Khadijah melamarnya. Maka menikahlah Muhammad yang pada waktu itu berusia 25 tahun dengan Khadijah berusia 40 tahun.
Peristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada saat usianya 35 tahun. Waktu itu bangunan Ka’bah rusak berat, perbaikan ka’bah dilakukan bergotong royong, para penduduk Mekkah membantu dengan ikhlas. Tetapi pada saat terakhir, ketika pekerjaan tinggal mengangkat dan meletakkannya hajar aswad ditempatnya semula timbul perselisihan.
Setiap suku merasa berhak melakukan tugas terakhir dan terhormat itu. Perselisihan semakin memuncak, namun pada akhirnya para pemimpin Quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk mesjid esok hari, dialah yang berhak meletakkan hajar aswad. Ternyata tidak satupun di antara mereka yang masuk mesjid lebih dahulu daripada Muhammad. Oleh karena itu, Muhammad berhak meletakkan hajar aswad ke tempat semula. Walaupun demikian, dengan sifat kearifannya, Muhammad membentang kain dan meletakkan hajar aswad di tengah surbannya, lalu meminta seluruh kepala suku memegang tepi kain itu dan mengangkat bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu kemudian Muhammad meletakkan pada tempatnya semula. Dengan demikian perselisihan dapat diselesaikan dengan bijaksana, dan semua kepala suku merasa puas dengan cara penyelesaian semacam itu.



2.     Masa Kerasulan
Menjelang usianya yang keempat puluh, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkomplentasi ke gua Hira, beberapa kilometer di Utara Makkah. Disana Muhammad mula-mula berjam-jam kemudian berhari-hari bertafakkur. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611, Di tempat inilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang berupa Surah Al-Alaq ayat 1-5. Dengan wahyu yang pertama ini, maka beliau telah diangkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada saat itu Nabi Muhammad belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua, yaitu Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7. Dengan turunnya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarganya dan sahabat dekatnya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib yang baru berumur 10 tahun. Kemudian, Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup, juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Sebagai seorang pedang yang berpengaruh, Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.



3.     Masa Dakwah Di Mekah
Setelah Rasulullah saw dimuliakan oleh Allah dengan nubuwwah dan risalah,  kehidupan beliau dapat dibagi menjadi dua fase yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri secara total, yaitu:
a.      Fase Mekkah : berlangsung selama ± 13 tahun
b.     Fase Madinah : berlangsung selama 10 tahun penuh

Masing-masing fase mengalami beberapa tahapan sedangkan masing-masing tahapan memiliki karakteristik tersendiri yang menonjolkannya dari yang lainnya. Hal itu akan tampak jelas setelah kita melakukan penelitian secara seksama terhadap kondisi-kondisi yang dilalui oleh dakwah dalam kedua fase tersebut.

Fase Mekkah dapat dibagi menjadi tiga tahapan :
1.     Tahapan dakwah sirriyyah (dakwah secara sembunyi-sembunyi); berlangsung selama tiga tahun.
2.     Tahapan dakwah jahriyyah (dakwah secara terang-terangan) kepada penduduk Mekkah, dari permulaan tahun keempat keNabian hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
3.     Tahapan dakwah di luar Mekkah dan penyebarannya di kalangan penduduknya; dari penghujung tahun kesepuluh keNabian, yang juga mencakup fase Madinah dan berlangsung hingga akhir hayat rasulullah saw. 


Tahapan Dakwah Sirriyyah (secara rahasia) selama tiga tahun
Ketika Nabi Muhammad saw mendapat pegikut sekitar 30 orang dan mereka mendapat sebutan Assabiqunal Awwalun; Artinya orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Rasulullah saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi (sirrun) selama tiga tahun.
Pada Fase penyeruan ini, sasaran yang dituju adalah keluarga dan kaum kerabat yang terdekat. Kerabat yang mula-mula menerima ajakannya untuk masuk Islam adalah istri Nabi (Siti Khadijah), Ali bin Abi Thalib (anak pamannya), Abu Bakar (sahabatnya), dan Zaid bin Haritsah (pembantu beliau). Setelah itu berikutnya, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam. Merekalah yang dipersiapkan menjadi juru dakwah dalam menyampaikan ajaran islam berikutnya. Rumah Al-Arqam bin Abil Arqam dijadikan sebagai markas dakwah Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan Baitul Arqam. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada Nabi dan masuk Islam di hadapan Nabi sendiri. Dengan dakwah secara diam-diam ini, belasan orang telah memeluk agama Islam.


Dakwah Secara Terang-terangan
Setelah Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun, Allah menurunkan wahyu surah Al-Hijr ayat 94. Setelah ayat ini diturunkan mulailah Rasulullah saw mengajak dan mengundang segenap lapisan masyarakat kota Mekkah untuk berkumpul di bukit safa. Tiap kaum dari suku Quraisy hadir beserta tokoh-tokohnya termasuk Abu Lahab, paman Rasulullah SAW.
Ia mengatakan kepada mereka, “saya tidak melihat seorang pun di kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Kubawakan kepadamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya mengajak kalian semua. Siapakah di antara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini?”. Mereka semua menolak kecuali Ali.
Langkah dakwah seterusnya yang diambil Muhammad saw adalah menyeru masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat kepada Islam dengan terang-terangan, baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk Mekkah, kemudian penduduk negeri-negeri lain. Di samping itu, ia juga menyeru orang-orang yang datang ke Mekkah, dari berbagai negeri untuk mengerjakan haji. Kegiatannya yang ia lakukan tanpa lelah. Dengan usahanya yang gigih, hasil yang diharapkannya mulai terlihat. Jumlah pengikut Nabi yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan orang-orang yang tak punya. Meskipun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lemah, namun semangat mereka sungguh membaja.
Setelah dakwah terang-terangan itu, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah rasul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, semakin keras tantangan dilancarkan kaum Quraisy. Faktor yang mendorong kaum Quraisy menentang seruan dakwah Islam di antaranya adalah :
1.     Mereka takut kehilangan kekuasaan.
2.     Adanya seruan Nabi tentang persamaan hak antara kaum bangsawan dan hamba sahaya.
3.     Menolak ajaran adanya kebangkitan di hari kiamat.
4.     Tidak bisa meninggalkan adat kebiasaan nenek moyang mereka.
5.     Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki. 

Banyak cara dan upaya yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad saw, namun selalu gagal, baik secara diplomatik dan bujuk rayu maupun tindakan-tindakan kekerasan secara fisik. Puncak dari segala cara itu adalah dengan dilakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim yang merupakan tempat Nabi Muhammad berlindung. Pemboikotan ini selama tiga tahun, dan merupakan tindakan yang paling melemahkan umat Islam pada saat itu. Pemboikotan ini baru berhenti setelah kaum Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sangat keterlaluan.
Tekanan dari orang-orang kafir semakin keras terhadap gerakan dakwah Nabi Muhammad saw terlebih setelah meninggalnya dua orang yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad saw dari orang-orang kafir, yaitu paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta beliau, Khadijah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kesepuluh keNabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi Nabi Muhammad saw sehingga dinamakan Amul Khuzn.


Dakwah Nabi Muhammad di luar Mekkah
Karena di Mekkah dakwah Nabi Muhammad saw mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya nabi memutuskan untuk berdakwah di luar Mekkah. Namun, di Thaif beliau dicaci dan dilempari batu sampai beliau terluka. Hal ini semua hampir menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk menguatkan hati beliau, Allah SWT mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini menggemparkan masyarakat Mekkah. Bagi orang kafir, peristiwa ini dijadikan propaganda untuk mendustakan Nabi Muhammad saw. Sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan ujian keimanan.
Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam terjadi, yaitu dengan datangnya sejumlah penduduk Yastrib (Madinah) untuk berhaji ke Mekkah. Mereka terdiri dari dua suku yang saling bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khazraj yang masuk Islam dalam tiga gelombang. Pada gelombang pertama pada tahun kesepuluh kenabian, mereka datang untuk memeluk agama Islam dan menerapkan ajarannya sebagai upaya untuk mendamaikan permusuhan antara kedua suku. Mereka kemudian mendakwahkan Islam di Yastrib.
Gelombang kedua, pada tahun ke-12 kenabian mereka datang kembali menemui nabi dan mengadakan perjanjian yang dikenal dengan perjanjian “Aqabah pertama” yang berisi ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembali ke yastrib sebagai juru dakwah disertai oleh Mus’ab bin Umair yang diutus oleh nabi untuk berdakwah bersama mereka. Gelombang ketiga, pada tahun ke-13 kenabian, mereka datang kembali kepada nabi untuk hijrah ke Yastrib. Mereka akan membai’at nabi sebagai pemimpin. Nabi pun akhirnya menyetujui usul mereka untuk berhijrah. Perjanjian ini disebut dengan perjanjian “Aqabah kedua” karena terjadi pada tempat yang sama.
Akhirnya Nabi Muhammad bersama kurang lebih 150 kaum muslimin hijrah ke Yastrib. Dan ketika sampai di sana, sebagai penghormatan terhadap nabi, nama Yastrib diubah menjadi Madinah.
Demikian periode Mekkah terjadi. Dalam periode ini Nabi Muhammad saw mengalami hambatan dan kesulitan dalam dakwah Islamiyah. Dalam periode ini Nabi Muhammad belum berpikir untuk menyusun suatu masyarakat Islam yang teratur, karena perhatian Nabi saw lebih terfokus pada penanaman teologi atau keimanan masyarakat.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW PERIODE MEKKAH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel