MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN TENTANG KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MASA ANAK KECIL (3-5 TAHUN)
MAKALAH PSIKOLOGI
PERKEMBANGAN
TENTANG
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN
MASA ANAK KECIL (3-5 TAHUN)
Dosen Pengampu : HJ.
USWATUN MARHAMAH, S.Ag.,M.Pd
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM WALI SEMBILAN (SETIA WS)
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masa anak-anak dimulai setelah melewati
masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai saat
anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14
tahun untuk pria. Selama periode ini (kira-kira 11 tahun bagi wanita dan 12
tahun bagi pria) terjadi sejumlah perubahan yang signifikan, baik secara fisik
maupun psikologis.[1]
Sejumlah ahli membagi masa anak-anak
menjadi dua, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak
awal berlangsung dari umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir
dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual. (Hurlock, 1980)[2]
Ada juga yang mengatkan usia anak-anak
awal dimulai dari umur 3 tahun sampai 5 tahun. Dalam makalah ini akan dibahas
tentang Karakteristik
Perkembanganmasa Anak Kecil (3-5 Tahun).
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan fisik dan motorik pada anak kecil ?
2.
Bagaimana
perkembangan pengamatan, fantasi dan dusta pada anak kecil ?
3.
Bagaimana
perkembangan perasaan pada anak kecil ?
4.
Bagaimana
perkembangan bahasa pada anak kecil ?
5.
Bagaimana
perkembangan sosial pada anak kecil ?
6.
Bagaimana
perkembangan berpikir pada anak kecil ?
7.
Bagaimana
perkembangan jiwa agama pada anak kecil ?
8.
Bagaimana
perkembangan moralitas pada anak kecil ?
9.
Bagaimana
perkembangan bermain pada anak kecil ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Perkembangan Fisik Dan Motorik Anak Kecil
Selama masa anak-anak awal, perkembangan
fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa
bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat iniberlangsung sampai mulai munculnya
pubertas, yakni kira-kira 2 tahun menjelang anak matang secara seksual dan
pertumbuhan fisik kembali berkembang pesat. Meskipun selama masa anak-anak
pertumbuhan fisik mengalami perlambatan, namun keterampilan-keterampilan
motorik kasar dan motorik halus justru berkembang pesat.
Selama masa anak-anak awal, tinggi
rata-rata anak bertumbuh 2,5 inchi dan berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg
setiap tahunnya (Mussen, Conger & Kagan, 1969). Ketika anak usia prasekolah
bertumbuh makin besar, persentase pertumbuhan dalam tinggi dan berat badan
menurun atau berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki-laki maupun
perempuan terlihat makin langsing, semesntara batang tubuh mereka makin panjang.
Perkembangan fisik pada masa anak-anak
ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus.
Sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia 4
tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia 5 tahun anak sudah
terampil menggunakan kakinya untu berjalan dengan berbagai cara, seperti maju
dan mundur, jalan cepat dan pelan, melompat dan berjingkrak, berlari kesana
kemari, memanjat dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebih halus dan
bervariasi. Anak usia 5 tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu
secara akurat, seperti menyeimbangkan badan diatas satu kaki, menangkap bola
dengan baik, melukis, menggunting dan melipat kertas, dan sebagainya.[3]
2.
Perkembangan Pengamatan, Fantasi Dan Dusta Pada Anak Kecil
Selama tahun-tahun prasekolah,
penglihatan yang menjadi sumber informasi penting mengalami peningkatan.
Meskipun demikian, anak prasekolah masih belum mampu melihat sebaik penglihatan
akan yang lebih besar. Mereka biasanya memiliki penglihatan jauh. Artinya,
mereka dapat melihat objek-objek yang jauh hampir dengan sempurna tetapi
mengalami kesukaran memfokuskan penglihatan pada objek-objek yang dekat
(Cratty, 1986). Bagi sebagian anak, penglihatan jauh ini mungkin menyebabkan
timbulnya problem-problem praktis tertentu, seperti kesukaran dalam menggambar
atau dalam melakukan tugas-tugas lain yang membutuhkan konsentrasi visual pada
waktu yang lama. Akan tetapi, anak prasekolah yang lebih besar penglihatan
dekat mereka cenderung bertambah baik, yang membantu mereka melakukan
tugas-tugas umum pada sekolah dasar, seperti membaca dan menulis.
Menurut ilmu aliran ilmu jiwa modern
memberikan pengertian, bahwa fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan
sesuatu yang baru. Dalam fantasi ini manusia dapat menciptakan sesuatu yang
belum ada, sehingga merupakan suatu kreasi.[4]
Pada masa kanak-kanak fantasi berkembang
sangat kuat . Demikian kuatnya fantasi itu, sehingga anak tidak bisa membedakan
antara realitas dengan fantasi. Kerancuan ini menyebabkan anak sering bercerita
bohong yang dalam fisikologi disebut sebagai “dusta khayal, atau dusta putih”.
Dusta putih yaitu suatu ekspresi keativitas yang umum di kalangan anak-anak.
Dusta putih adalah kebohongan yang diceritakan seorang anak yang sebenarnya
merasa yakin bahwa hal itu benar, tidak bertujuan untuk menipu orang lain.
Contoh seorang anak yang melakukan dusta putih adalah sebagai berikut : seorang
anak berumur empat tahun bercerita kepada ibunya bahwa ia melihat ular naga di
pohon kelapa di depan rumahnya. Sewaktu ibunya bertanya tentang bentuk, warna,
dan tingkah laku naga tersebut, anak tersebut mengemukakan jawaban sesuai
dengan khayalan, dan ia mengemukakan dengan penuh keyakinan. (Elida Prayitno.
1992: 47)
Banyak dusta putih berasal dari melamun.
Disamping melamun anak didorong mengaitkan sifat hidup pada benda mati dan
mendengar cerita atau melihat gambar benda/hewan yang dibuat dan berkata
sesuatu seperti halnya manusia dalam realitas, mereka cenderung percaya bahwa
hal itu memang benar ada atau mungkn nyata.[5]
3.
Perkembangan Perasaan Pada Anak Kecil
Beberapa
jenis perasaan yang berkembang pada masa anak yaitu :
1. Takut,
yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan. Rasa takut
terhadap sesuatu berlangsung melalui tahapan : (1) mula-mula tidak takut,
karena anak belum sanggup melihat kemungkinan bahaya yang terdapat dalam objek.
(2) timbul rasa takut setelah mengenal adanya bahaya. (3) rasa takut bisa
menghilang setelah mengetahui cara-cara menghindar dari bahaya.
2. Cemas,
yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. Kecemasan
ini muncul karena khayalan, misalnya timbul setelah membaca komik atau
menonton film-film menakutkan.
3. Marah,
merupakan perasaan tidak senang atau benci baik terhadap orang lain atau diri
sendiri atau objek tertentu baik berupa verbal atau non verbal. Pada masa ini
rasa marah sering terjadi karena : (1) banyak stimulus yang menyebabkan dia
marah, (2) marah karena mereka ingin mendapatkan perhatian dan memuaskan
keinginannya sendiri.
4. Cemburu,
yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut
kasih sayang dari seseorang yang telah mencurahkan kasih sayang kepadanya.
Sumber yang menimbulkan rasa cemburu selalu bersifat situasi sosial. Perasaan
cemburu ini diikuti dengan ketegangan yang biasanya dapat diredakan dengan
reaksi-reaksi yaitu : (1) agresif / permusuhan terhadap saingan, (2) Regresif /
perilaku kekanak-kanakan seperti ngompol atau menghisap jempol. (3) sikap tidak
peduli, (4) menjauhkan diri dari saingan.
5. Kegembiraan, kesenangan , kenikmatan. Yaitu satu perasaan yang positif, nyaman karena terpenuhi
keinginannya. Kondisi yang melahirkan perasaan gembira pada anak, diantaranya
terpenuhinya kebutuhan jasmaniah (makan dan minum), keadaan jasmaniah yang
sehat, diperolehnya kasih sayang, ada kesempatan untuk bergerak (bermain secara
leluasa), dan memiliki mainan yang disenanginya.
6. Kasih sayang,
yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian atau perlindungan terhadap
orang lain, hewan atau benda. Perasaan ini berkembang berdasarkan pengalamannya
yang menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain, hewan atau benda. Kasih
sayang anak kepada orang tua atau saudaranya sangat dipengaruhi oleh iklim emosional
yang ada dalam keluarganya.
7. Phobi,
yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya (takut yang
abnormal), seperti takut air, petir. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orang
tua yang suka menakut-nakuti anak yang biasanya digunakan sebagai cara orang
tua untuk menghukum atau menghentikan perilaku anak yang tidak disenanginya.
8. Ingin Tahu (Curiocity), yaitu perasaan ingin mengenal dan mengetahui segala sesuatu atau
objek-objek yang bersifat fisik atau non fisik. Perasaan ini ditandai dengan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak. Masa bertanya (masa haus nama) ini
dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada sekitar usia 6 tahun.[6]
4.
Perkembangan Bahasa Pada Anak Kecil
Pada masa ini penguasaan kosa kata anak
meningkat pesat. Anak mengucapkan kalimat yang makin panjang dan makin bagus,
menunjukkan panjang rata-rata anak telah mulai menyatakan pendapatnya dengan
kalimat majemuk. Sesekali ia menggunakan kalimat perangkai, akhirnya timbul
anak kalimat.
Pada mulanya bahasa nak-anak bersifat
egosentris, yaitu bentuk bahasa yang lebih menonjolkan diri sendiri, berkisar
pada minat, keluarga, dan miliknya sendiri. Menjelang akhir masa anak-anak
awal, percakapan anak-anak berangsur-angsur berkembang menjadi bahasa sosial.
Bahasa sosial dipergunakan untuk berhubungan, bertukar pikiran mempengaruhi
orang lain. Bentuk bahasa yang dipergunakan sering berupa pengaduan dan
keluhan, komentar buruk, kritikan, dan pertanyaan. Ketka bahasa anak berubah
dari bahasa yang bersifat egosentris ke bahasa sosial, maka terjadi penyatuan
antara bahasa dan pikiran. Penyatuan antara bahasa dan pikiran ini sangat
penting bagi pembentukan struktur mental atau kognitif anak.[7]
5.
Perkembangan Sosial Pada Anak Kecil
Dalam hal ini dapat dilihat berdasarkan
3 tipe temperamen anak menurut para psikolog, yakni :
1. Anak yang mudah diatur, mudah beradaptasi dengan pengalaman baru, senang
bermain dengan mainan baru, tidur dan makan secara teratur dan dapat
meyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya.
2. Anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas sehari-hari, sering
menangis, butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan dan gelisah saat tidur.
3. Anak yang membutuhkan waktu pemanasan yang lama, umumnya terlihat agak
malas dan pasif, jarang berpartisipasi secara aktif dan seringkali menunggu
semua hal diserahkan kepadanya.[8]
Dari pendapat di atas diketahui bahwa
kepribadian dan kemampuan anak berempati dengan orang lain merupakan kombinasi
antara bawaan dengan pola asuh ketika ia masih anak-anak.
Pada masa ini, perkembangan emosi mereka
sangat kuat seperti ledakan amarah , ketakutan yang hebat, iri hati yang tidak
masuk akal karena ingin memiliki barang orang lain dan biasanya terjadi dalam
lingkungan keluarga yang besar. Demikian pula denga rasa cemburu muncul karena
kurangnya perhatian yang diterima dibanding dengan yang lainnya, dan terjadi
dalam keluarga yang kecil. Terjadi sebagai akibat dari lamanya bermain, tidak
mau tidur siang dan makan terlalu sedikit.[9]
Secara jelas kognisi sosial, menjelang
akhir umur 3 tahun ia sudah cukup percaya diri untuk bermain dengan anak lain.[10]
Muncul pemahaman perbedaan antara kepercayaan dan keinginan seorang anak
yakni persahabatan yang didasarkan pada aktivitas bersama.[11]
6.
Perkembangan Berpikir Pada Anak Kecil
Pada usia ini, kemampuan untuk memproses
informasi masih terbatas. Anak-anak prasekolah dapat membuat penilaian
perseptual sederhana sebagaimana yang dilakukan oleh orang dewasa, sepanjang
penilaian itu melibatkan memori atau reorganisasi kognitif yang relatif kecil.
Tetapi pemikiran yang lebih kompleks, anak prasekolah sering mengalami banyak
kesalahan dalam apa yang mereka lihat dan dengar. Hal ini karena perhatiannya dibelokkan
jauh dari stimulus nyata kepada pemrosesan stimulus ini.[12]
7.
Perkembangan Jiwa Agama Pada Anak Kecil
Seorang anak mulai mengenal tuhan
melalui orangtua dan lingkungan keluarganya. Arthur T. Jersild dan
kawan-kawannya dalam The Psychology of Adolescence mengatakan bahwa: biasanya
orang atau anak beragama itu dikarenakan orangtuanya beragama, atau karena ia
menirukan orangtuanya beragama. Ucapan, perbuatan, sikap dan perlakuan orangtua
sangat mempengaruhi perkembangan agama pada anak-anak. Sebelum mampu berbicara,
perkembangan utama yang dilalui anak-anak adalah melihat dan mendengar. Namun
pertumbuhan agama justru sudah dimulai di masa tersebut.[13]
Melalui penelitian Ernest Harms
dapat diketahui bahwa pada usia prasekolah, perkembangan agama pada anak berada
ditingkat the fairy tale stage (tingkat dongeng). Pada tingkatan ini
konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada
tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan
tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak
dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama pun anak masih
menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang
masuk akal.[14]
8.
Perkembangan Moralitas Pada Anak Kecil
Seiring
dengan perkembangan sosial, anak-anak usia prasekolah juga mengalami
perkembangan moral. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan moral adalah
perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia dalm interaksinya dengan orang lain
(Santrock, 1995). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral)
tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan.
Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan oranglain (dengan
orangtua, saudara dan teman sebaya), anak belajar tentang memahami perilaku
mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang
tidak boleh dikerjakan.[15]
9.
Perkembangan Bermain Pada Anak Kecil
Permainan adalah salah satu bentuk
aktivitas sosial yang dominan pada awal masa anak-anak. Sebab, anak-anak
menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah bermain dengan teman-temannya
dibanding terlibat dalam aktivitas lain. Karena itu, kebanyakan hubungan sosial
dengan teman sebaya dalam masa ini terjadi dalam bentuk permainan.
Jadi, permaian bagi anak adalah suatu
bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-mata untuk aktivitas
itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari
aktivitas tersebut. Hal ini adalah karena bagi anak-anak proses melakukan
sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya. (Schwartzman,
1978)[16]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam makalah ini memuat 9 indikator pokok tentang perkembangan
anak-anak (usia 3-5 tahun). Diantaranya :
1.
Perkembangan
fisik dan motorik pada anak kecil
2.
Perkembangan
pengamatan, fantasi dan dusta pada anak kecil
3.
Perkembangan
perasaan pada anak kecil
4.
Perkembangan
bahasa pada anak kecil
5.
Perkembangan
sosial pada anak kecil
6.
Perkembangan
berpikir pada anak kecil
7.
Perkembangan
jiwa agama pada anak kecil
8.
Perkembangan
moralitas pada anak kecil
9.
Perkembangan
bermain pada anak kecil
DAFTAR ISI
Desmita, Psikologi
Perkembangan. (PT. Remaja RosdaKarya : Bandung, 20113). Cet.8
[4] http://mulianor12light.blogspot.com/2012/06/perkembangan-fantasi-anak.html. Diakses pada
12 November 2018. Pukul 09.56 WIB.
[5] http://dexnachicharito.blogspot.com/2012/01/perkembangan-masa-kanak-kanak.html. Diakses pada
12 November 2018. Pukul 09.59 WIB.
[6] https://3lox.wordpress.com/2009/12/31/perekembangan-psikososial-anak/. Diakses pada
12 November 2018. Pukul 10.00 WIB.
[8] (Ariavita Purnamasari, Kamus
Perkembangan Bayi & Balita, Jakarta: Erlangga, 2005, h. 110). Diakses
melalui https://pustakapaud.blogspot.com/2016/02/karakteristik-perkembangan-anak-usia-dini.html. Pada 13 November
2018. Pukul 11.17 WIB
[9] (Elizabet B. Hurlock, Psikologi
Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, h. 116).
Diakses melalui https://pustakapaud.blogspot.com/2016/02/karakteristik-perkembangan-anak-usia-dini.html. Pada 13 November
2018. Pukul 11.17 WIB
[10] https://www.parentingclub.co.id/smart-stories/ciriciri-perkembangan-akal-fisik-dan-sosial-anak-umur-3-tahun. Diakses pada
12 November 2018. Pukul 10.15 WIB.
[11] (Aliah B. Purwakania
Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Rajawali Press, 2006, h.
199). Diakses melalui https://pustakapaud.blogspot.com/2016/02/karakteristik-perkembangan-anak-usia-dini.html. Pada 13 November
2018. Pukul 11.17 WIB
[13] https://restiarman.wordpress.com/2015/06/04/perkembangan-jiwa-agama-pada-anak-anak/. Diakses pada
12 November 2018. Pukul 10.15 WIB.
[14] http://hikmahuda.blogspot.com/2014/05/perkembangan-jiwa-agama-pada-masa-anak.html. Diakses pada
12 November 2018. Pukul 10.15 WIB.
Belum ada Komentar untuk "MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN TENTANG KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MASA ANAK KECIL (3-5 TAHUN)"
Posting Komentar